BAB 14
MANAJEMEN HARAPAN
(Buku Rheinald Khasali yg berjudul
Change)
All human wisdom is summed up in two
words wait and hope.
Alexander Dumas
● HARAPAN DAN REALITAS
It is never to late - in fiction or
in life – to revise.
Nancy Thayer
Pengalaman dan pengetahuan bisa membentuk ekspektasi.
Ekspektasi sesungguhnya adalah sesuatu yang wajar, yang dibentuk berdasarkan
hitung-hitungan logis-rasional. Ekspektasi yang didukung oleh dorongan-dorongan
yang sifatnya emosional akan membentuk hasrat harapan (hope).
Harapan-harapan ini biasanya sudah diwarnai taburan bunga-bunga indah tentang
sesuatu di masa depan. Ekspektasi berubah warna menjadi hasrat harapan antara
lain, karena proses komunikasi yang dibumbui oleh pencitraan. Harapan
sesungguhnya adalah modal yang bagus untuk merangsang perubahan, jika tujuannya
melibatkan mereka sebagai salah seorang aktor dalam perubahan itu sendiri,
tetapi akan menjadi beban manakala peserta pasif dan hanya menunggu atau
mendengar. ..
- HARAPAN DAN TEORI ATRIBUSI
Teori atribusi dalam hal ini,
memperkenalkan dimensi-dimensi penyebab (causal dimensions) seperti locus
of control, durasi, dan kemampuan mengendalikan.
- Locus of control
- Durasi
- Kendali
Untuk mengendalikan harapan, seorang
pemimpin dapat mengkomunikasikan upaya-upaya yang telah dilakukan serta
menjelaskan penyebabnya.
“Mengurangi perasaan negatif atau memberikan hal yang
lebih positif”
Manusia pada umumnya dapat merasakan
hal-hal yang negatif yang membuat dirinya merasa segera dan perlu untuk berubah
atau diubah. Selain tingkat kepuasan, seorang pemimpin harus mengetahui satu
hal lagi yaitu, dimensionalitas kepuasan dan atau ketidakpuasan. Jacoby (1976)
memperkenalkan konsep facilitation dan inhibition yang bertemu
pada titik netral (zero point) dimana tidak ada kepuasan, tapi juga bebas dari
ketidakpuasan. Menurut konsep ini, pertama-tama seorang pemimpin harus
membersihkan diri dari kekecewaan masa lalu, memperoleh kepercayaan, dan
memaafkan masa lalu.
Dengan kata lain membersihkan segala
perasaan ketidakpuasan dan kekecewaan dan merestorasi segala kerusakan di masa
lalu. inhibition adalah kegiatan restorasi, memperbaiki yang rusak serta
mengembalikan sistem agar kembali bekerja seperti seharusnya atau membangun
sistem baru atau yang lebih baik. Berikut ini menunjukkan langkah-langkah yang
diambil pada taha inhibition dibandingkan dengan facilitation.
Langkah-langkah dalam inhibition & facilitation
Membersihkan inhibition
· Membersihkan
hati, dari amarah, dendam, dan sakit hati.
· Meminta maaf
dan memaafkan (rekonsiliasi).
· Memperbaiki
sistem yang rusak.
· Membawa
kasus-kasus yang terbengkalai ke meja perundingan dan peradilan.
· Memperbaiki
pelayanan agar lebih tertib dan teratur.
· Membuang
nilai-nilai lama yang membuat rasa tidak percaya dan tersekat-sekat dalam kotak
pemisah.
Menciptakan facilitation
ü Mengangkat pejabat yang bersih dan capable
secara terbuka.
ü Merumuskan strategi baru.
ü Memberikan penghargaan.
ü Mengumumkan hasil-hasil program “pembersihan”
ü Memberikan service yang lebih memberikan “surprise”
positif, dan menyenangkan.
ü Menumbuhkan kultur kerja yang positif dan kompetitif.
Membuang faktor-faktor inhibition
dapat mencegah dan mengatasi ketidakpuasan, tetapi tidak menciptakan
kepuasan-kepuasan baru.
Perubahan memerlukan skala
prioritas, dan prioritas pertama adalah menyelesaikan masalah-masalah masa lalu
dan berdamai dengannya.
Memelihara Harapan
Harapan bukan hanya perlu dikendalikan melainkan terus
dipelihara, karena harapan yang positif dapat menjadi lokomotif penggerak untuk
menciptakan perubahan. Dengan demikian, pemimpin perubahan perlu terus
memlihara harapan.
Struktur Harapan
Struktur gerakan harapan dimulai dengan adanya seorang
pemimpin yang memberikan stimulus kepadea audience tentang perlunya
perubahan. Ia menunjukkan kontras antara kondisi hari ini dengan gambaran yang
lebih baik di masa depan. Kalau hal ini dilakukan secara berulang-ulang maka ia
bisa menimbulkan harapan-harapan baru. Harapan dapat juga menimbulkan
dorongan-dorongan kalau dipicu dengan rasa tidak puas terhadap kondisi
sekarang. Ada dua hal yang membuat manusia tidak puas terhadap kondisi
sekarang, yaitu:
1. Faktor
ekternal
Adalah hal-hal yang datang dari
luar, misalnya Anda biasa bepergian ke luar negri atau membaca berita-berita
tentang hal yang terjadi di luar negeri.
2. Faktor
Internal
Adalah yang mampu menggerakkan
perubahan dapat berupa hal-hal, seperti merasa diperlukan tidak adil, merasa
bisa lebih baik, dan sebagainya. Gerakan tersebut baru bisa berhenti ketika
seseorang merasa sudah memperoleh apa yang ia inginkan, berupa insentive
object. Tetapi bisa juga berhenti sebelum semua itu dicapai karena manusia
mengalami keputusasaan dan merasa upayanya sia-sia.
Mencegah Keputusasaan
Untuk memelihara harapan agar terus bergerak maka
pemimpin perubahan harus melakukan upaya-upaya yang bersifat pencegahan
terhadap rasa putus asa para pengikutnya. Rasa putus asa yang dialami para
pengikut bisa mengakibatkan seorang pemimpin gagal menyelesaikan perubahan (failure
to finish). Ada dua tekanan yang dapat mengakibatkan seseorang kehilangan
asa, yaitu :
1. Keletihan (getting
tired)
Manusia menjadi letih pertama-tama karena perubahan
bukanlah sekedar tranformasi organisasi (reorganisasi). Perubahan pada dasarnya
menyangkut manusia, yaitu perubahan tentang cara berpikir dan bertindak.
Beberapa faktor yang mempengaruhinya adalah :
a. Perubahan
tidak memberikan titik terang
b. Terlalu
sering berganti arah dan pimpinan.
c. Berjalan
tanpa keyakinan
2. Hilang Arah
(getting lost)
Menciptakan Harapan-Harapan Baru
Karena harapan memerikan dorongan dalam perubahan maka
seorang pemimpin harus kreatif memciptakan impian-impian baru.
Hal-hal yang Kasatmata Membangun
Optimisme
Pemimpin pada dasarnya adalah orang-orang khusus yang
bekerja dengan visi. Dengan visi itu seorang pemimpin mampu melihat dengan mata
“posibility”, yaitu sesuatu yang belum terlihat secara kasatmata, tetapi
“tampak terang” di otaknya. Para pengikut melihat progress melalui mata
persepsi, yaiutu apa yang secara riil terlihat dimata mereka.
Pemimpin dapat menggunakan komunikasi simbolik atau
membangun hala-hal yang tampak secara kasatmata untuk menunjukkan progress
sehingga pengikut-pengikutnya tetap bersemangat.
Pemimpin dapat menunjukkan simbol-simbol perubahan
atau sesuatu yang berubah secara bertahap dengan berbagai hal, seperti:
· Mengubah logo. Logo
adalah bagian dari corporate identity yang tampak secara kasatmata. Logo
adalah simbol yang paling gampang sekaligus yang paling sulit untuk diubah.
Disebut gampang karena simbol adalah simbol yang paling mudah dilihat publik
(internal maupun eksternal). Mengubah identitas fisik nonlogo. Selain
mengubah logo, ada bentuk-bentuk fisik lain yang dapat dilihat secara kasat
mata untuk diubah.
· Memperbaiki pelayanan. Dimulai
dari proses pengambilan keputusan yang lebih cepat, penempatan petugas yang
menangani komplain, penetapan program excellent service, perbaikan delivery
time dan ketepatan waktu, pemberian sentuhan yang lebih baik dlam
pelayanan, dan sebagainya.
· Meremajakan produk dan merek (brand/product
rejuvenation). Menumbuhkan kepercayaan dan harapan baru denagn
meremajakan produk anda, baik dengan memunculkan produk-produk baru yang lebih
inovatif, mengubah tampilan (kemasan), ukuran, bintang iklan, dan cara
berkomunikasi dengan pasar
· Memperbaiki kebersihan dan ketertiban. Pemimpin
bisa menertibkan semua ini dengan mudah dan menunjukkan keseriusannya dengan
membuat semua prosedur kerja dan fisik yang lebih tertib dan bersih.
· Meningkatkan penampilan/keberadaan (availability).
Meningkatkan
keberadaan produk pada outlet-outlet yang dengan mudah terlihat pasar bisa
menimbulkan pengaruh yang sangat besar, baik bagi publik/konsumen maupun
karyawan.
ANCAMAN DIBALIK HARAPAN
We want to create hope for the
person...
We must give hope, always hope.
Bunda Teresa
Refusal to hope is nothing more than
a decision to die
Pearl S. Buck
Manajemen harapan menjadi sangat
penting mengingat tidak semua harapan itu dapat dipenuhi.
Mitos-mitos perubahan, yaitu antara
lain:
Mitos kesatu: perubahan selalu
ditandai dengan kehidupan yang lebih baik. Perubahan memang “menjanjikan”
kemajuan dan kesejahteraan, tetapi tidak “ditandai” dengan kenikmatan yang leih
baik seketika. Bahkan dalam banyak hal justru menuntut pengorbanan, disiplin,
dan komitmen dari semua pihak.
Mitos kedua: perubahan hanya dapat
dilakukan oleh orang-orang muda. Perubahan memang diminati oleh kaum
muda dan sangat dirasakan oleh kaum tua, tetapi atas dasar ini tidak dapat
disimpulkan bahwa kaum tua selalu anti perubahan. Kaum muda dan kaum tua
sama-sama punya kesempatan yang besar untuk menggoreskan pena emasnya melalui
sebuah karya perubahan
Mitos ketiga : Perubahan hanya dilakukan kalau ada “masalah” serius.
Banyak orang berpandangan perubahan atau manajemen
perubahan hanya dipakai pada saat suatu instansi sedang menghadapi masalah
besar. Jadi, kalau ada krisis kata mitos itu, perubahan tidak diperlukan. Tentu
saja ini tidak benar. Perubahan harus dilakukan setiap saat agar institusi “fit”
dengan kebutuhan lingkungan.
Mitos keempat : Saya diangkat untuk
melanjutkan hal-hal yang dirintis para pendahulu saya
Penggantiaan pimpinan, di manapun
juga, ditujukan bukan sekedar untuk memensiunkan atau mempromosikan pemimpin
lama pada posisi yang lebih tinggi lagi, melainkan upaya otoritas untuk
meremajakan organisasi.
Peremajaan berarti perubahan, yaitu
membuat institusi tampak lebih segar, lebih gesit, lebih responsive, dan lebih
menguntungkan. Jadi, seorang pemimpin diangkat untuk menggantikan pemimpin yang
lama, untuk menciptakan suatu perubahan, bukan untuk menjadi status quo.
Mitos kelima : Perubahan berarti PHK
Pada akhir abad ke-20, perubahan
hampir selalu diikuti dengan program PHK. Awalnya dulu dikenal dengan istilah downsizing,
yang artinya “perampingan” atau pengurangan beban, termasuk jumlah SDM yang
dinilai telah terlalu besar.
Setelah istilah downsizing,
dunia bisnis juga mengenal istilah reengineering, yang artinya
membongkar kembali organisasi agar lebih lincah bergerak. Tetapi perubahan tidak
selalu berarti downsizing atau reengineering. Perubahan juga bisa
berarti upsizing atau menambah jumlah orang karena perusahan mengalami
kemajuan.
Dengan memerhatikan mitos-mitos
tersebut maka pemimpin harus bertindak dengan sangat bijak karena masyarakat
pengikut/bawahan/ konsumen tidak sepenuhnya dapat menerima begitu saja
konsekuensi-konsekuensinya.
Untuk itu pemimpin perlu
berkomunikasi dengan jelas, tidak hanya menyampaikan secara transparan
hasil-hasil perubahan, melainkan juga upaya-upaya yang telah dilakukan beserta
alas an-alasan logis (logical reasoning) di balik berbagai upaya dan
kejadian tersebut. Pemimpin yang bijak tidak akan membiarkan pengikutnya
terus-menerus hidup dalam mitos.
Hidup dalam alam yang riil
adakalanya sangat menakutkan. Tetapi sesungguhnya ia tidak lebih menakutkan
dari yang dipikarkan. Membiarkan para pengikut hidup dalam ilusi adalah sama
dengan membuang waktu sia-sia tanpa memberikan kesempatan untuk bangkit
menghadapinya. Dunia riil bisa menyulitkan, tetapi apapun nama dan
persoalannya, ia sungguh-sungguh riil.
No comments:
Post a Comment