PERANAN LEADERSHIP DALAM MANAJEMEN PERUBAHAN
DI BANK BRI
I. PENDAHULUAN
Karakteristik manusia yang sangat
unik karena memiliki sifat, sikap, perilaku, keahlian dan ketrampilan yang
berbeda-beda menghasilkan sesuatu yang kompleks dalam suatu organisasi atau
perusahaan. Ketrampilan dan keahlian manusia bisa dengan mudah ditingkatkan
dengan adanya pelatihan, tetapi sifat, dan perilaku sangat sulit dirubah
sehingga bisa mempengaruhi budaya perusahaan. Budaya perusahaan pun ada yang
baik dan ada yang tidak, mengubah budaya perusahaan yang tidak baik adalah
sangat sulit, mengingat di dalamnya terdapat berbagai macam individu yang
berbeda. Penempatan sumber daya manusia pada tempatnya sesuai bidang dan
keahliannya dapat membawa perusahaan pada tujuan yang ingin dicapainya, karena
mereka bekerja sesuai dengan fungsinya. Sehingga diperlukan motivasi yang baik
dan kuat untuk dapat meningkatkan kinerja karyawan. Motivasi ini bisa berasal
dari dalam diri individu itu sendiri juga bisa berasal dari pimpinan organisasi
atau perusahaan.
Dalam menghadapi situasi yang selalu
berkembang dan berubah maka diperlukan seorang pemimpin atau leader yang
mempunyai faktor kepemimpinan atau leadership yang sangat andal dalam suatu
organisasi. Hal ini sangat penting sekali demi keberlangsungan suatu
organisasi. Pengelolaan suatu organisasi atau perusahaan yang hanya bertujuan
untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk mencapai tujuan perusahaan
merupakan tujuan jangka pendek perusahaan yang sudah tidak relevan lagi dengan
perkembangan, tetapi keharusan untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan kegiatan
dan untuk selalu menang dalam kompetisi yang semakin ketat di dunia usaha
sehingga bisa mempertahankan suatu organisasi atau perusahaan diperlukan
kehadiran dan peranan seorang leader.
Pengelolaan karyawan yang ada di
perusahaan dengan menciptakan suatu komunikasi kerja yang baik antara atasan
dan bawahan sehingga tercipta hubungan kerja yang serasi dan selaras. Hal ini
dapat meningkatkan etos kerja dan semangat karyawan sehingga prestasi kerja
mereka dapat meningkat. Penilaian terhadap hasil kerja karyawan mutlak
diperlukan, setelah itu harus ada penghargaan dan pengakuan kepada karyawan
yang berprestasi, sehingga bisa memacu semangat berkompetisi antar karyawan.
Dalam kehidupan organisasi atau
perusahaan sehari-hari tidak hanya ditentukan oleh peranan seorang leader
dengan keunggulan leadershipnya, tetapi juga oleh kualitas yang tinggi dari
para karyawan atau tenaga kerjanya. Para follower atau pekerja memiliki
kesejajaran dengan leader sebagai individu, dan oleh karenanya kedudukan,
wewenang, dan tanggung jawab serta kemampuan dan potensi yang ada pada mereka
harus dapat dimanfaatkan bagi organisasi, lebih dari hanya sekedar dalam bentuk
bekerja dan melaksanakan fungsi kekaryaannya. Disamping potensi untuk berkarya,
potensi yang ada pada setiap diri individu pekerja dalam wujud karsa, daya
cipta, dan cita rasapun seluruhnya harus disumbangkan untuk kepentingan
organisasi (Suharsono, 2002).
Dengan demikian, keberhasilan suatu
organisasi tidak hanya bergantung pada pemimpinnya (leader), tetapi juga
ditentukan oleh peranan dan keberhasilan para karyawannya. Tetapi kepemimpinan
yang sukses mutlak diperlukan untuk membawa organisasi atau perusahaan menuju
masa depan. Oleh karena itu keputusan-keputusan yang diambil oleh seorang
pemimpin adalah keputusan-keputusan yang strategik, dimana dalam mengerjakan
sesuatu hal harus tetap berfokus pada tujuan dan selalu mencari alternatif
cara-cara baru yang lebih inovatif dan kreatif dalam mencapai tujuan tersebut.
II. Leadership yang kuat
Seorang pemimpin harus mempunyai
visi dan misi yang jelas tentang arah organisasi dan akan dibawa kemana
organisasi tersebut. Seorang pemimpin haruslah visioner, yang mampu melihat
masa depan dan semua yang dilakukannya harus jelas, terarah, dan terukur demi
kemajuan dan keberlangsungan organisasi.
Perkembangan dunia bisnis yang
sangat pesat dengan persaingan yang ketat membuat organisasi harus berpikir
untuk mengambil langkah ke depan mengenai hal-hal apa saja yang harus dilakukan
agar bisnis organisasi bisa berlangsung terus (sustainable) dan tidak
hanya berfokus pada profit. Setiap organisasi harus kreatif dan mampu
berinovasi menciptakan peluang usaha atau bisnis baru. Agar tujuan tersebut
bisa tercapai maka visi dan misi perusahaan harus dikomunikasikan dan
disosialisasikan mulai dari top management, manager, hingga karyawan. Tujuan
atau goals perusahaan/organisasi, bisnis, serta pekerjaan sampai pada level
individu harus dirinci secara jelas. Selain itu hal yang terpenting adalah
menentukan strategi level bisnis.
Peranan CEO sebagai pimpinan
menentukan keberhasilan suatu perusahaan, seorang pemimpin yang
transformational sangat diperlukan oleh sebuah organisasi atau perusahaan yang
mempunyai keinginan untuk berubah menjadi perusahaan yang lebih maju bahkan
menjadi leading di bidangnya, seperti yang diterangkan oleh Rudjito, Ketua
Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengambil kasus pada Bank
BRI. Sebagaimana diketahui bahwa Bank BRI adalah bank pemerintah yang dulu
pernah kalah bersaing dengan bank swasta yang banyak bermunculan. Untuk dapat
bertahan dan menjadi leading bank, maka banyak sekali perubahan yang harus
dilakukan.
Usaha-usaha yang dilakukan oleh Bank
BRI antara lain dengan mengusahakan setiap kantor cabang bisa mandiri dalam hal
ini menjadi cabang enterpreneur yang bisa memenuhi kebutuhan kantornya sendiri
dan berupaya untuk meningkatkan jumlah nasabahnya. Dan untuk menekan biaya
operasional kantor maka untuk kantor unit hanya menyewa bangunan, sedang untuk
kantor cabang baru ada kebijakan dari pusat kalau gedung kantor tersebut harus
dibeli menjadi hak milik perusahaan. Setiap pemimpin kantor harus berupaya
memotivasi bawahannya untuk memajukan kantornya. Dengan demikian upaya BRI
untuk berubah harus didukung oleh semua pegawainya dan enviroment perubahan
tersebut harus dirasakan oleh semuanya sehingga akan timbul semangat untuk
meningkatkan kinerja dan memajukan kantornya.
Kunci sukses dari industri perbankan adalah
(1) service based industri, pelayanan bank yang
baik, selalu bersikap helpfull
terhadap nasabah yang sewajarnya akan membuat nasabah merasa nyaman, senang,
dan puas sehingga transaksi bank yang semula dirasakan rumit dan sulit menjadi
mudah;
(2) trust based
industri, bank harus membentuk kepercayaan masyarakat terhadapnya karena
jika masyarakat percaya dan mau menyimpan uangnya pada bank tersebut;
(3) risk based
industri, industri perbankan mempunyai resiko yang sangat tinggi karena
menyangkut dana masyarakat yang dikelolanya dan tergantung pada pergerakan
ekonomi nasional maupun internasional. Oleh karena hal tersebut maka regulasi
perbankan diatur oleh Bank Indonesia, sehingga dana masyarakat bisa terjamin
keamanannya.
Menurut Rudjito, usaha-usaha
yang dilakukan BRI untuk melakukan perubahan manajemen salah satunya dengan
mendatangkan CEO dari luar BRI dan hal ini mendatangkan reaksi dari kalangan
internal BRI baik positif maupun negatif. Sebagian dari mereka menaruh harapan
yang tinggi dan sebagian yang lain bersikap skeptik bahkan tidak peduli.
Pendekatan yang dilakukan CEO yang baru yaitu melalui:
(1) basic
human needs, menjalin kerjasama yang baik antara atasan dan bawahan,
menganggap mereka teman dengan memberikan perhatian terhadap pekerjaan yang
mereka lakukan serta kinerjanya, serta memberikan apresiasi pada hasil kerja
bawahan berupa reward dan melakukan pendekatan dan teguran serta punishment
jika mereka melakukan kesalahan; 2) first impression, seorang atasan
harus memberikan kesan pertama yang baik sehingga yang tertanam dibenak para
bawahannya adalah hal-hal yang baik;
3) open
management, transparansi saat sekarang ini sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan kepercayaan kepada manajemen perusahaan dan pengawasan bisa
dilakukan oleh siapa saja sehingga memperkecil resiko terjadinya
kecurangan.
Langkah pertama yang diambil
oleh CEO dan Direksi adalah membangun dan menstimulasi komunikasi interaktif
antara karyawan dan manajemen, menanamkan dibenak semua orang untuk selalu
berpikir positif, dan membentuk suatu teamwork yang solid. Tetap saling
berkompetisi tetapi bersinergis untuk kemajuan perusahaan. Setelah perubahan
besar-besaran terjadi mulai dari recapitalization, restructuring, dan
reorganization, maka setelah empat tahun hasil perubahan tersebut mulai
terlihat. Hal ini antara lain ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan
pegawai BRI, kinerja yang semakin baik, keuntungan yang meningkat (RoE nomor 8
dari 1000 bank di dunia), komposisi loan yang semakin baik, membayar pajak yang
tinggi dan mampu membayar deviden, serta peningkatan jumlah modal usaha.
Sehingga mendapatkan penghargaan sebagai bank terbaik baik di dalam maupun luar
negeri.
Jadi kesuksesan suatu perusahaan
memang ditentukan oleh pimpinannya dalam hal ini CEO. Faktor kepemimpinan CEO
inilah yang menjadi kunci utama bagaimana suatu masalah dalam perusahaan bisa
diputuskan, bagaimana keputusan-keputusan strategis dalam perusahaan diambil
sehingga perusahaan menjadi leading di bidangnya, menjadi perusahaan yang kuat
yang didukung oleh sunber daya manusia yang berkualitas. Dan hal ini tentu saja
tidak berasal dari diri pribadi CEO sendiri tetapi juga didukung oleh tim-tim
ahli dibidangnya yang bisa memberikan advice yang sangat diperlukan untuk
kemajuan perusahaan.
III. Pendekatan Teori
Suatu perusahaan akan menjadi lebih
baik dan mengalami kemajuan apabila didukung oleh semua pihak baik yang berada
di level karyawan maupun manajemen. CEO dan Direksi pasti akan membuat strategi
perusahaan atau organisasi yang baru untuk merubah culture perusahaan yang lama
yang dirasa harus diperbaharui karena sudah tidak relevan lagi dengan
pencapaian visi dan misi perusahaan. Akan tetapi suatu strategi tidak akan
berjalan sesuai yang diharapkan apabila eksekusi yang dilakukan salah.
Kegagalan terbesar suatu perusahaan adalah kesalahan dalam pengambilan
keputusan (strategi eksekusi), karena semua kebijakan yang baik tidak akan ada
artinya jika salah dalam melangkah. Strategi eksekusi tersebut akan gagal jika
pimpinan (CEO) salah dalam melihat masa depan (tidak visioner), tidak fokus
dalam mengerjakan sesuatu dalam hal ini belum memahami pekerjaan secara
mendalam.
Demi keberlangsungan perusahaan maka
dari sisi internal perusahaan harus diperbaiki hingga mempunyai teamwork yang
solid melalui perbaikan komunikasi antara atasan dan bawahan, jelas beban
tugasnya sesuai dengan kredibilitas dan kemampuan masing-masing pegawai
sehingga pencapaian tujuan perusahaan bisa optimal. Jika dari sisi internal
sudah baik dalam arti telah terbentuk daya saing yang kuat dari perusahaan maka
pembenahan dari sisi eksternal bisa dilakukan yaitu melalui pencitraan,
hubungan perusahaan dengan klien, serta branding produk yang dikenal secara
luas.
Perusahaan kini makin menyadari
bahwa keberhasilan mereka semakin bersandar pada kemampuan perusahaan
mengakuisisi dan mengelola knowledge
based dan information based.
Semakin disadari bahwa faktor intangible
seperti citra perusahaan, keintiman hubungan dengan pelanggan, kekuatan
database, nilai merek, proses yang efisien dan efektif , serta karyawan yang
berkomitmen dan berkompetensi, merupakan prediktor handal atas keberhasilan
perusahaan di masa datang. Intangible
assets semakin diakui menjadi faktor yang menentukan keunggulan
kompetitif perusahaan (Pella, 2008).
Seperti yang sudah diuraikan di atas
bahwa komunikasi yang terjadi dalam suatu perusahaan harus merupakan komunikasi
dua arah, berusaha saling melengkapi sehingga terbentuk kerjasama yang baik.
Hal tersebut akan terjadi jika visi dan misi perusahaan atau langkah-langkah
yang akan diambil perusahaan dikomunikasikan dan disosialisasikan mulai dari
top management, manager, hingga karyawan sehingga semua langkah yang dilakukan
oleh top management mendapat dukungan dari bawah dan timbul rasa saling percaya
antara atasan dan bawahan bahwa semua langkah yang diambil adalah untuk
kepentingan bersama dan kemajuan organisasi demi kesejahteraan semua anggota organisasi.
Seorang pemimpin yang baik pasti
akan memberikan teladan yang baik, mampu mempengaruhi sehingga pegawainya
termotivasi untuk melakukan pekerjaan yang terbaik untuk perusahaan, seperti :
menginspirasi karyawan untuk melakukan yang terbaik, membuat pekerjaan yang
dijalani menjadi sesuatu yang menarik dan memuaskan. Sebab partisipasi karyawan
diperlukan dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan pekerjaan yang
ditekuni, dan diharapkan karyawan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan
operasional demi tercapainya tujuan perusahaan.
Oleh karena itu diperlukan seorang
pemimpin yang bersikap demokratis. Artinya seseorang yang menafsirkan
kepemimpinannya bukan sebagai dictator, melainkan sebagai pemimpin
ditengah-tengah anggota kelompoknya. Hubungan dengan anggota kelompoknya bukan
sebagai majikan terhadap buruh, melainkan sebagai kakak terhadap
saudara-saudaranya. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi
anggotanya agar bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam
tindakan dan usaha-usahanya ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan
kelompoknya. Pemimpin memberikan kesempatan kepada anggota-anggotanya agar
mempunyai kecakapan memimpin dengan jalan mendelegasikan sebagian kekuasaan dan
tanggung jawabnya (Peryoga, 2009).
Pemimpin
efektif adalah pemimpin yang dapat mempengaruhi bawahannya secara positif
sehingga bawahan dengan senang hati mau dan mampu bekerja sama untuk pencapaian
tujuan bersama. Meski pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, sejatinya
masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi efektifitas seorang pemimpin,
yakni sikap bawahannya.
Karyawan yang efektif adalah bawahan
yang dapat memahami pemimpinnya secara positif sehingga pemimpin dengan senang
hati mau dan mampu bekerja sama untuk pencapaian tujuan bersama. Setidaknya ada
empat faktor yang mempengaruhi seseorang untuk menjadi karyawan yang efektif.
Pertama adalah sikap proaktif. Karyawan yang proaktif adalah bawahan yang
bertanggungjawab, tidak hanya menunggu perintah dari pemimpin dan mampu melakukan
prioritas kerja. Intinya, bawahan proaktif adalah karyawan yang mampu bekerja
secara mandiri.
Kedua, berpikir kritis. Karyawan
yang baik tidak berarti nurut atau 'manut' saja apa kemauan dari pimpinan.
Berpikir kritis sangat dibutuhkan untuk memahami secara jelas apa kemauan
pemimpin. Tujuan yang telah disepakati pemimpin dan akan mempermudah
karyawan dalam mengimplementasikan tindakan-tindakannya.
Ketiga, asertif yakni keberanian
untuk berkata 'tidak'. Hal ini memang sulit dilakukan oleh karyawan. Tapi keberanian
untuk berkata 'tidak' dengan disertai alasan jelas memang harus dilakukan bila
keasertifan tersebut mendukung nilai-nilai yang dianut oleh organisasi.
Sedangkan faktor keempat adalah menghargai perbedaan. Seperti pemimpin,
karyawan juga perlu menghargai perbedaan yang timbul dari hubungannya dengan
pemimpin. Bila pendapat mereka dianggap tidak relevan, kemukakan alasan yang
masuk akal.
IV. Pendekatan dalam Manajemen Perubahan Organisasi
Jika suatu organisasi mau melakukan
perubahan maka pemimpin yang mempunyai transformasionallah yang dibutuhkan.
Pemimpin yang membawa perubahan-perubahan baru sehingga organisasi barunya
nanti terlihat lebih fresh, lebih baik dari sebelumnya, dan bisa meningkatkan
status serta gengsi perusahaan. Gunawan (2007) menjabarkan bahwa
kepemimpinan transformasional merupakan sebuah proses di mana para pemimpin dan
pengikut saling menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang lebih
tinggi. Para pemimpin transformasional mencoba menimbulkan kesadaran para
pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-niali moral
seperti kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi
seperti keserakahan, kecemburuan atau kebencian. Kepemimpinan transformasional
berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan),
seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab yang justru nilai seperti ini
hal yang sangat sulit ditemui di Indonesia.
Seorang pemimpin transformasional
dapat diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para
pengikutnya. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa adanya
kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap pemimpin tersebut dan
mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya diharapkan
terhadap mereka.
Seorang
pemimpin transformasional memotivasi para pengikut dengan membuat mereka lebih
sadar mengenai pentingnya hasil-hasil pekerjaan, mendorong mereka untuk lebih
mementingkan organisasi atau negara daripada kepentingan diri sendiri dan
mengaktifkan (menstimulus) kebutuhan-kebutuhan mereka yang lebih
tinggi. Kepemimpinan transformasional mencakup tiga komponen, yaitu
kharisma, stimulasi intelektual, dan perhatian yang diindividualisasi. Kharisma
dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dimana seorang pemimpin mempengaruhi
para pengikut dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat dan identifikasi dengan
pemimpin tersebut. Stimulasi intelektual adalah sebuah proses dimana para
pemimpin meningkatkan kesadaran para pengikut terhadap masalah-masalah dan mempengaruhi
para pengikut untuk memandang masalah-masalah dari prespektif yang baru.
Perhatian yang diindividualisasi termasuk memberikan dukungan, membesarkan hati
dan memberi pengalaman-pengalaman tentang pengembangan diri kepada pengikut
(Gunawan, 2007). Salah satu bentuk gaya kepemimpinan transformasional
adalah menciptakan atau mendorong upaya kreativitas bawahannya untuk membuat
sesuatu yang baru yang bisa menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan sehingga
kredibilitasnya meningkat dan kepercayaan masyarakat bertambah seiring
meningkatnya service atau pelayanan kepada masyarakat.
Menurut penelitian Dewo (2010),
seorang pemimpin yang menunjukan gaya kepemimpinan transformasional mampu
menumbuh kembangkan kreativitas dengan menerapkan pemikiran kritis dan standar
moral yang baik bagi karyawannya, memberikan tugas-tugas baru untuk membangun
potensi serta memberikan pelatihan dan pengarahan agar pekerjaanya dapat
selesai tepat waktu dan efisien. Hal unik yang dimiliki pemimpin tersebut
adalah kemampuannya mempercayakan seluruh tanggung jawab yang diberikan kepada
karyawan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cara dan ide-ide
sendiri namun tetap sesuai prosedur kerja.
Jadi
untuk melakukan suatu perubahan dalam perusahaan atau organisasi perlu mendapat
dukungan dari semua pihak yang terkait. Semuanya akan berjalan dengan baik jika
dipimpin oleh seorang pemimpin yang baik pula yang mampu melakukan perubahan
demi kemajuan perusahaan.
IV. Kesimpulan
Dari berbagai uraian di atas, dapat diambil suatu
kesimpulan sebagai berkut :
1. Implementasi strategi di Bank BRI sebagus apapun
itu akan mengalami kegagalan jika salah dalam melakukan eksekusi. Seorang CEO /
Direktur utama haruslah visioner sehingga tahu apa peluang dan apa tantangan di
masa mendatang sehingga bisa merencanakan suatu strategi yang matang dan
melaksanakan eksekusi yang benar untuk kemajuan perusahaan.
2. Dukungan dari para karyawan BRI mutlak diperlukan
oleh Bank BRI dalam menghadapi masa-masa sulit. Advice dari karyawan merupakan suatu alternatif pemecahan masalah
yang bisa membantu perusahaan keluar dari kesulitan. Sikap proaktif dan upaya
pembenahan dari dalam (internal perusahaan) disiapkan sebaik mungkin agar jika
pada saat kondisi sudah stabil perusahaan bisa lebih maju lagi, dan untuk ini
diperlukan sosok pemimpin yang demokratis.
3. Seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan
transformasional ( Era Dirut Rudjito) sangat diperlukan oleh Bank BRI yang ingin
melakukan perubahan secara keseluruhan. Tantangan terbesarnya adalah sulitnya
merubah kultur perusahaan yang sudah terbentuk sejak lama bahkan sudah
mendarahdaging. Pemimpin transformasional akan mampu merubah kultur tersebut
dengan karisma, stimulasi intelektual dan perhatian secara individu.
Daftar Pustaka
Gunawan,
Andi. 2007. Kepemimpinan Transformasional dan Visioner (Bag. 1).
Jumadi.
2008. Tips Menyampaikan Ide Kepada Atasan.
Mustofa,
Hasan. 2001. Manajemen Perubahan.
Pella, A. Darmin.
2008. Eksekusi Strategi (2).
Peryoga,
Ikhsan. 2009. Untuk Kita Calon Kepala Sekolah.
No comments:
Post a Comment