"everything in life is easier when you don't concern yourself with what everybody else is doing"

Monday, August 15, 2016



PERANAN LEADERSHIP DALAM MANAJEMEN PERUBAHAN
 DI BANK BRI
I. PENDAHULUAN
Karakteristik manusia yang sangat unik karena memiliki sifat, sikap, perilaku, keahlian dan ketrampilan yang berbeda-beda menghasilkan sesuatu yang kompleks dalam suatu organisasi atau perusahaan. Ketrampilan dan keahlian manusia bisa dengan mudah ditingkatkan dengan adanya pelatihan, tetapi sifat, dan perilaku sangat sulit dirubah sehingga bisa mempengaruhi budaya perusahaan. Budaya perusahaan pun ada yang baik dan ada yang tidak, mengubah budaya perusahaan yang tidak baik adalah sangat sulit, mengingat di dalamnya terdapat berbagai macam individu yang berbeda. Penempatan sumber daya manusia pada tempatnya sesuai bidang dan keahliannya dapat membawa perusahaan pada tujuan yang ingin dicapainya, karena mereka bekerja sesuai dengan fungsinya. Sehingga diperlukan motivasi yang baik dan kuat untuk dapat meningkatkan kinerja karyawan. Motivasi ini bisa berasal dari dalam diri individu itu sendiri juga bisa berasal dari pimpinan organisasi atau perusahaan.
Dalam menghadapi situasi yang selalu berkembang dan berubah maka diperlukan seorang pemimpin atau leader yang mempunyai faktor kepemimpinan atau leadership yang sangat andal dalam suatu organisasi. Hal ini sangat penting sekali demi keberlangsungan suatu organisasi. Pengelolaan suatu organisasi atau perusahaan yang hanya bertujuan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk mencapai tujuan perusahaan merupakan tujuan jangka pendek perusahaan yang sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan, tetapi keharusan untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan kegiatan dan untuk selalu menang dalam kompetisi yang semakin ketat di dunia usaha sehingga bisa mempertahankan suatu organisasi atau perusahaan diperlukan kehadiran dan peranan seorang leader.
Pengelolaan karyawan yang ada di perusahaan dengan menciptakan suatu komunikasi kerja yang baik antara atasan dan bawahan sehingga tercipta hubungan kerja yang serasi dan selaras. Hal ini dapat meningkatkan etos kerja dan semangat karyawan sehingga prestasi kerja mereka dapat meningkat. Penilaian terhadap hasil kerja karyawan mutlak diperlukan, setelah itu harus ada penghargaan dan pengakuan kepada karyawan yang berprestasi, sehingga bisa memacu semangat berkompetisi antar karyawan.
Dalam kehidupan organisasi atau perusahaan sehari-hari tidak hanya ditentukan oleh peranan seorang leader dengan keunggulan leadershipnya, tetapi juga oleh kualitas yang tinggi dari para karyawan atau tenaga kerjanya. Para follower atau pekerja memiliki kesejajaran dengan leader sebagai individu, dan oleh karenanya kedudukan, wewenang, dan tanggung jawab serta kemampuan dan potensi yang ada pada mereka harus dapat dimanfaatkan bagi organisasi, lebih dari hanya sekedar dalam bentuk bekerja dan melaksanakan fungsi kekaryaannya. Disamping potensi untuk berkarya, potensi yang ada pada setiap diri individu pekerja dalam wujud karsa, daya cipta, dan cita rasapun seluruhnya harus disumbangkan untuk kepentingan organisasi (Suharsono, 2002).
Dengan demikian, keberhasilan suatu organisasi tidak hanya bergantung pada pemimpinnya (leader), tetapi juga ditentukan oleh peranan dan keberhasilan para karyawannya. Tetapi kepemimpinan yang sukses mutlak diperlukan untuk membawa organisasi atau perusahaan menuju masa depan. Oleh karena itu keputusan-keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin adalah keputusan-keputusan yang strategik, dimana dalam mengerjakan sesuatu hal harus tetap berfokus pada tujuan dan selalu mencari alternatif cara-cara baru yang lebih inovatif dan kreatif dalam mencapai tujuan tersebut.

II. Leadership yang kuat
Seorang pemimpin harus mempunyai visi dan misi yang jelas tentang arah organisasi dan akan dibawa kemana organisasi tersebut. Seorang pemimpin haruslah visioner, yang mampu melihat masa depan dan semua yang dilakukannya harus jelas, terarah, dan terukur demi kemajuan dan keberlangsungan organisasi.
Perkembangan dunia bisnis yang sangat pesat dengan persaingan yang ketat membuat organisasi harus berpikir untuk mengambil langkah ke depan mengenai hal-hal apa saja yang harus dilakukan agar bisnis organisasi bisa berlangsung terus (sustainable) dan tidak hanya berfokus pada profit. Setiap organisasi harus kreatif dan mampu berinovasi menciptakan peluang usaha atau bisnis baru. Agar tujuan tersebut bisa tercapai maka visi dan misi perusahaan harus dikomunikasikan dan disosialisasikan mulai dari top management, manager, hingga karyawan. Tujuan atau goals perusahaan/organisasi, bisnis, serta pekerjaan sampai pada level individu harus dirinci secara jelas. Selain itu hal yang terpenting adalah menentukan strategi level bisnis.
 Peranan CEO sebagai pimpinan menentukan keberhasilan suatu perusahaan, seorang pemimpin yang transformational sangat diperlukan oleh sebuah organisasi atau perusahaan yang mempunyai keinginan untuk berubah menjadi perusahaan yang lebih maju bahkan menjadi leading di bidangnya, seperti yang diterangkan oleh Rudjito, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengambil kasus pada Bank BRI. Sebagaimana diketahui bahwa Bank BRI adalah bank pemerintah yang dulu pernah kalah bersaing dengan bank swasta yang banyak bermunculan. Untuk dapat bertahan dan menjadi leading bank, maka banyak sekali perubahan yang harus dilakukan. 
Usaha-usaha yang dilakukan oleh Bank BRI antara lain dengan mengusahakan setiap kantor cabang bisa mandiri dalam hal ini menjadi cabang enterpreneur yang bisa memenuhi kebutuhan kantornya sendiri dan berupaya untuk meningkatkan jumlah nasabahnya. Dan untuk menekan biaya operasional kantor maka untuk kantor unit hanya menyewa bangunan, sedang untuk kantor cabang baru ada kebijakan dari pusat kalau gedung kantor tersebut harus dibeli menjadi hak milik perusahaan. Setiap pemimpin kantor harus berupaya memotivasi bawahannya untuk memajukan kantornya. Dengan demikian upaya BRI untuk berubah harus didukung oleh semua pegawainya dan enviroment perubahan tersebut harus dirasakan oleh semuanya sehingga akan timbul semangat untuk meningkatkan kinerja dan memajukan kantornya. 
Kunci sukses dari industri perbankan adalah 
(1) service based industri, pelayanan bank yang baik, selalu bersikap helpfull terhadap nasabah yang sewajarnya akan membuat nasabah merasa nyaman, senang, dan puas sehingga transaksi bank yang semula dirasakan rumit dan sulit menjadi mudah; 
(2) trust based industri, bank harus membentuk kepercayaan masyarakat terhadapnya karena jika masyarakat percaya dan mau menyimpan uangnya pada bank tersebut; 
(3) risk based industri, industri perbankan mempunyai resiko yang sangat tinggi karena menyangkut dana masyarakat yang dikelolanya dan tergantung pada pergerakan ekonomi nasional maupun internasional. Oleh karena hal tersebut maka regulasi perbankan diatur oleh Bank Indonesia, sehingga dana masyarakat bisa terjamin keamanannya. 
 Menurut Rudjito, usaha-usaha yang dilakukan BRI untuk melakukan perubahan manajemen salah satunya dengan mendatangkan CEO dari luar BRI dan hal ini mendatangkan reaksi dari kalangan internal BRI baik positif maupun negatif. Sebagian dari mereka menaruh harapan yang tinggi dan sebagian yang lain bersikap skeptik bahkan tidak peduli. Pendekatan yang dilakukan CEO yang baru yaitu melalui:
 (1) basic human needs, menjalin kerjasama yang baik antara atasan dan bawahan, menganggap mereka teman dengan memberikan perhatian terhadap pekerjaan yang mereka lakukan serta kinerjanya, serta memberikan apresiasi pada hasil kerja bawahan berupa reward dan melakukan pendekatan dan teguran serta punishment jika mereka melakukan kesalahan; 2) first impression, seorang atasan harus memberikan kesan pertama yang baik sehingga yang tertanam dibenak para bawahannya adalah hal-hal yang baik;
 3) open management, transparansi saat sekarang ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan kepada manajemen perusahaan dan pengawasan bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga memperkecil resiko terjadinya kecurangan. 

 Langkah pertama yang diambil oleh CEO dan Direksi adalah membangun dan menstimulasi komunikasi interaktif antara karyawan dan manajemen, menanamkan dibenak semua orang untuk selalu berpikir positif, dan membentuk suatu teamwork yang solid. Tetap saling berkompetisi tetapi bersinergis untuk kemajuan perusahaan. Setelah perubahan besar-besaran terjadi mulai dari recapitalization, restructuring, dan reorganization, maka setelah empat tahun hasil perubahan tersebut mulai terlihat. Hal ini antara lain ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan pegawai BRI, kinerja yang semakin baik, keuntungan yang meningkat (RoE nomor 8 dari 1000 bank di dunia), komposisi loan yang semakin baik, membayar pajak yang tinggi dan mampu membayar deviden, serta peningkatan jumlah modal usaha. Sehingga mendapatkan penghargaan sebagai bank terbaik baik di dalam maupun luar negeri. 
Jadi kesuksesan suatu perusahaan memang ditentukan oleh pimpinannya dalam hal ini CEO. Faktor kepemimpinan CEO inilah yang menjadi kunci utama bagaimana suatu masalah dalam perusahaan bisa diputuskan, bagaimana keputusan-keputusan strategis dalam perusahaan diambil sehingga perusahaan menjadi leading di bidangnya, menjadi perusahaan yang kuat yang didukung oleh sunber daya manusia yang berkualitas. Dan hal ini tentu saja tidak berasal dari diri pribadi CEO sendiri tetapi juga didukung oleh tim-tim ahli dibidangnya yang bisa memberikan advice yang sangat diperlukan untuk kemajuan perusahaan. 

 III. Pendekatan Teori
Suatu perusahaan akan menjadi lebih baik dan mengalami kemajuan apabila didukung oleh semua pihak baik yang berada di level karyawan maupun manajemen. CEO dan Direksi pasti akan membuat strategi perusahaan atau organisasi yang baru untuk merubah culture perusahaan yang lama yang dirasa harus diperbaharui karena sudah tidak relevan lagi dengan pencapaian visi dan misi perusahaan. Akan tetapi suatu strategi tidak akan berjalan sesuai yang diharapkan apabila eksekusi yang dilakukan salah. Kegagalan terbesar suatu perusahaan adalah kesalahan dalam pengambilan keputusan (strategi eksekusi), karena semua kebijakan yang baik tidak akan ada artinya jika salah dalam melangkah. Strategi eksekusi tersebut akan gagal jika pimpinan (CEO) salah dalam melihat masa depan (tidak visioner), tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu dalam hal ini belum memahami pekerjaan secara mendalam. 
Demi keberlangsungan perusahaan maka dari sisi internal perusahaan harus diperbaiki hingga mempunyai teamwork yang solid melalui perbaikan komunikasi antara atasan dan bawahan, jelas beban tugasnya sesuai dengan kredibilitas dan kemampuan masing-masing pegawai sehingga pencapaian tujuan perusahaan bisa optimal. Jika dari sisi internal sudah baik dalam arti telah terbentuk daya saing yang kuat dari perusahaan maka pembenahan dari sisi eksternal bisa dilakukan yaitu melalui pencitraan, hubungan perusahaan dengan klien, serta branding produk yang dikenal secara luas. 
Perusahaan kini makin menyadari bahwa keberhasilan mereka semakin bersandar pada kemampuan perusahaan mengakuisisi dan mengelola knowledge based dan information based.  Semakin disadari bahwa faktor intangible seperti citra perusahaan, keintiman hubungan dengan pelanggan, kekuatan database, nilai merek, proses yang efisien dan efektif , serta karyawan yang berkomitmen dan berkompetensi, merupakan prediktor handal atas keberhasilan perusahaan di masa datang. Intangible assets semakin diakui menjadi faktor yang menentukan keunggulan kompetitif  perusahaan (Pella, 2008). 
Seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa komunikasi yang terjadi dalam suatu perusahaan harus merupakan komunikasi dua arah, berusaha saling melengkapi sehingga terbentuk kerjasama yang baik. Hal tersebut akan terjadi jika visi dan misi perusahaan atau langkah-langkah yang akan diambil perusahaan dikomunikasikan dan disosialisasikan mulai dari top management, manager, hingga karyawan sehingga semua langkah yang dilakukan oleh top management mendapat dukungan dari bawah dan timbul rasa saling percaya antara atasan dan bawahan bahwa semua langkah yang diambil adalah untuk kepentingan bersama dan kemajuan organisasi demi kesejahteraan semua anggota organisasi. 
Seorang pemimpin yang baik pasti akan memberikan teladan yang baik, mampu mempengaruhi sehingga pegawainya termotivasi untuk melakukan pekerjaan yang terbaik untuk perusahaan, seperti : menginspirasi karyawan untuk melakukan yang terbaik, membuat pekerjaan yang dijalani menjadi sesuatu yang menarik dan memuaskan. Sebab partisipasi karyawan diperlukan dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan pekerjaan yang ditekuni, dan diharapkan karyawan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan operasional demi tercapainya tujuan perusahaan. 
Oleh karena itu diperlukan seorang pemimpin yang bersikap demokratis. Artinya seseorang yang menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai dictator, melainkan sebagai pemimpin ditengah-tengah anggota kelompoknya. Hubungan dengan anggota kelompoknya bukan sebagai majikan terhadap buruh, melainkan sebagai kakak terhadap saudara-saudaranya. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi anggotanya agar bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tindakan dan usaha-usahanya ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya. Pemimpin memberikan kesempatan kepada anggota-anggotanya agar mempunyai kecakapan memimpin dengan jalan mendelegasikan sebagian kekuasaan dan tanggung jawabnya (Peryoga, 2009).
 Pemimpin efektif adalah pemimpin yang dapat mempengaruhi bawahannya secara positif sehingga bawahan dengan senang hati mau dan mampu bekerja sama untuk pencapaian tujuan bersama. Meski pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, sejatinya masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi efektifitas seorang pemimpin, yakni sikap bawahannya. 
Karyawan yang efektif adalah bawahan yang dapat memahami pemimpinnya secara positif sehingga pemimpin dengan senang hati mau dan mampu bekerja sama untuk pencapaian tujuan bersama. Setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi seseorang untuk menjadi karyawan yang efektif. Pertama adalah sikap proaktif. Karyawan yang proaktif adalah bawahan yang bertanggungjawab, tidak hanya menunggu perintah dari pemimpin dan mampu melakukan prioritas kerja. Intinya, bawahan proaktif adalah karyawan yang mampu bekerja secara mandiri. 
Kedua, berpikir kritis. Karyawan yang baik tidak berarti nurut atau 'manut' saja apa kemauan dari pimpinan. Berpikir kritis sangat dibutuhkan untuk memahami secara jelas apa kemauan pemimpin. Tujuan yang telah disepakati pemimpin dan akan mempermudah karyawan dalam mengimplementasikan tindakan-tindakannya. 
Ketiga, asertif yakni keberanian untuk berkata 'tidak'. Hal ini memang sulit dilakukan oleh karyawan. Tapi keberanian untuk berkata 'tidak' dengan disertai alasan jelas memang harus dilakukan bila keasertifan tersebut mendukung nilai-nilai yang dianut oleh organisasi. Sedangkan faktor keempat adalah menghargai perbedaan. Seperti pemimpin, karyawan juga perlu menghargai perbedaan yang timbul dari hubungannya dengan pemimpin. Bila pendapat mereka dianggap tidak relevan, kemukakan alasan yang masuk akal. 

IV. Pendekatan dalam Manajemen Perubahan Organisasi 
Jika suatu organisasi mau melakukan perubahan maka pemimpin yang mempunyai transformasionallah yang dibutuhkan. Pemimpin yang membawa perubahan-perubahan baru sehingga organisasi barunya nanti terlihat lebih fresh, lebih baik dari sebelumnya, dan bisa meningkatkan status serta gengsi perusahaan.  Gunawan (2007) menjabarkan bahwa kepemimpinan transformasional merupakan sebuah proses di mana para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin transformasional mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-niali moral seperti kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi seperti keserakahan, kecemburuan atau kebencian. Kepemimpinan transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab yang justru nilai seperti ini hal yang sangat sulit ditemui di Indonesia. 
Seorang pemimpin transformasional dapat diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikutnya. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap pemimpin tersebut dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya diharapkan terhadap mereka. 
            Seorang pemimpin transformasional memotivasi para pengikut dengan membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil pekerjaan, mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau negara daripada kepentingan diri sendiri dan mengaktifkan (menstimulus) kebutuhan-kebutuhan mereka yang lebih tinggi. Kepemimpinan transformasional mencakup tiga komponen, yaitu kharisma, stimulasi intelektual, dan perhatian yang diindividualisasi. Kharisma dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dimana seorang pemimpin mempengaruhi para pengikut dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat dan identifikasi dengan pemimpin tersebut. Stimulasi intelektual adalah sebuah proses dimana para pemimpin meningkatkan kesadaran para pengikut terhadap masalah-masalah dan mempengaruhi para pengikut untuk memandang masalah-masalah dari prespektif yang baru. Perhatian yang diindividualisasi termasuk memberikan dukungan, membesarkan hati dan memberi pengalaman-pengalaman tentang pengembangan diri kepada pengikut (Gunawan, 2007).  Salah satu bentuk gaya kepemimpinan transformasional adalah menciptakan atau mendorong upaya kreativitas bawahannya untuk membuat sesuatu yang baru yang bisa menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan sehingga kredibilitasnya meningkat dan kepercayaan masyarakat bertambah seiring meningkatnya service atau pelayanan kepada masyarakat. 
Menurut penelitian Dewo (2010), seorang pemimpin yang menunjukan gaya kepemimpinan transformasional mampu menumbuh kembangkan kreativitas dengan menerapkan pemikiran kritis dan standar moral yang baik bagi karyawannya, memberikan tugas-tugas baru untuk membangun potensi serta memberikan pelatihan dan pengarahan agar pekerjaanya dapat selesai tepat waktu dan efisien. Hal unik yang dimiliki pemimpin tersebut adalah kemampuannya mempercayakan seluruh tanggung jawab yang diberikan kepada karyawan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cara dan ide-ide sendiri namun tetap sesuai prosedur kerja. 
            Jadi untuk melakukan suatu perubahan dalam perusahaan atau organisasi perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang terkait. Semuanya akan berjalan dengan baik jika dipimpin oleh seorang pemimpin yang baik pula yang mampu melakukan perubahan demi kemajuan perusahaan. 

 IV. Kesimpulan 
Dari berbagai uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berkut : 
1. Implementasi strategi di Bank BRI sebagus apapun itu akan mengalami kegagalan jika salah dalam melakukan eksekusi. Seorang CEO / Direktur utama haruslah visioner sehingga tahu apa peluang dan apa tantangan di masa mendatang sehingga bisa merencanakan suatu strategi yang matang dan melaksanakan eksekusi yang benar untuk kemajuan perusahaan. 
2. Dukungan dari para karyawan BRI mutlak diperlukan oleh Bank BRI dalam menghadapi masa-masa sulit. Advice dari karyawan merupakan suatu alternatif pemecahan masalah yang bisa membantu perusahaan keluar dari kesulitan. Sikap proaktif dan upaya pembenahan dari dalam (internal perusahaan) disiapkan sebaik mungkin agar jika pada saat kondisi sudah stabil perusahaan bisa lebih maju lagi, dan untuk ini diperlukan sosok pemimpin yang demokratis. 
3. Seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional ( Era Dirut Rudjito) sangat diperlukan oleh Bank BRI yang ingin melakukan perubahan secara keseluruhan. Tantangan terbesarnya adalah sulitnya merubah kultur perusahaan yang sudah terbentuk sejak lama bahkan sudah mendarahdaging. Pemimpin transformasional akan mampu merubah kultur tersebut dengan karisma, stimulasi intelektual dan perhatian secara individu.  















Daftar Pustaka
Gunawan, Andi. 2007. Kepemimpinan Transformasional dan Visioner (Bag. 1).
Jumadi. 2008. Tips Menyampaikan Ide Kepada Atasan.
Mustofa, Hasan. 2001. Manajemen Perubahan.
Pella, A. Darmin. 2008. Eksekusi Strategi (2). 
Peryoga, Ikhsan. 2009. Untuk Kita Calon Kepala Sekolah.
Surur. 2010. Memilih Pemimpin yang Ideal. Padepokan Ilmu. http://www.padepokan-ilmu.co.cc/2009/05/memilih-pemimpin-yang-ideal.html.

No comments:

Post a Comment